Viskositas adalah sebuah ukuran penolakan sebuah fluid terhadap perubahan bentuk di bawah tekanan shear. Biasanya diterima sebagai “kekentalan”, atau penolakan terhadap penuangan. Viskositas menggambarkan penolakan dalam fluid kepada aliran dan dapat dipikir sebagai sebuah cara untuk mengukur gesekan fluid. Air memiliki viskositas rendah, sedangkan minyak sayur memiliki viskositas tinggi.
Arsip untuk Februari, 2008
Defenisi Viskositas
Februari 18, 2008Asidosis Respiratorik
Februari 17, 2008Defenisi :
Asidosis Respiratorik adalah keasaman darah yang berlebihan karena penumpukan karbondioksida dalam darah sebagai akibat dari fungsi paru-paru yang buruk atau pernafasan yang lambat.
Kecepatan dan kedalaman pernafasan mengendalikan jumlah karbondioksida dalam darah.
Dalam keadaan normal, jika terkumpul karbondioksida, pH darah akan turun dan darah menjadi asam.
Tingginya kadar karbondioksida dalam darah merangsang otak yang mengatur pernafasan, sehingga pernafasan menjadi lebih cepat dan lebih dalam.
Penyebab :
Asidosis respiratorik terjadi jika paru-paru tidak dapat mengeluarkan karbondioksida secara adekuat.
Hal ini dapat terjadi pada penyakit-penyakit berat yang mempengaruhi paru-paru, seperti:
- Emfisema
- Bronkitis kronis
- Pneumonia berat
- Edema pulmoner
- Asma.
Asidosis respiratorik dapat juga terjadi bila penyakit-penyakit dari saraf atau otot dada menyebabkan gangguan terhadap mekanisme pernafasan.
Selain itu, seseorang dapat mengalami asidosis respiratorik akibat narkotika dan obat tidur yang kuat, yang menekan pernafasan.
Alkalosis Respiratorik
Februari 17, 2008Defenisi :
Alkalosis Respiratorik adalah suatu keadaan dimana darah menjadi basa karena pernafasan yang cepat dan dalam menyebabkan kadar karbondioksida dalam darah menjadi rendah.
Penyebab :
Pernafasan yang cepat dan dalam disebut hiperventilasi, yang menyebabkan terlalu banyaknya jumlah karbondioksida yang dikeluarkan dari aliran darah.
Penyebab hiperventilasi yang paling sering ditemukan adalah kecemasan.
Penyebab lain dari alkalosis respiratorik adalah:
- rasa nyeri
- sirosis hati
- kadar oksigen darah yang rendah
- demam
- overdosis aspirin.
Pengobatan :
Biasanya satu-satunya pengobatan yang dibutuhkan adalah memperlambat pernafasan.
Jika penyebabnya adalah kecemasan, memperlambat pernafasan bisa meredakan penyakit ini.
Jika penyebabnya adalah rasa nyeri, diberikan obat pereda nyeri.
Menghembuskan nafas dalam kantung kertas (bukan kantung plastik) bisa membantu meningkatkan kadar karbondioksida setelah penderita menghirup kembali karbondioksida yang dihembuskannya.
Pilihan lainnya adalah mengajarkan penderita untuk menahan nafasnya selama mungkin, kemudian menarik nafas dangkal dan menahan kembali nafasnya selama mungkin. Hal ini dilakukan berulang dalam satu rangkaian sebanyak 6-10 kali.
Jika kadar karbondioksida meningkat, gejala hiperventilasi akan membaik, sehingga mengurangi kecemasan penderita dan menghentikan serangan alkalosis respiratorik.
Kesimbangan Asam-Basa
Februari 17, 2008Derajat keasaman merupakan suatu sifat kimia yang penting dari darah dan cairan tubuh lainnya.
satuan derajat keasaman adalah ph:
|
suatu asam kuat memiliki ph yang sangat rendah (hampir 1,0); sedangkan suatu basa kuat memiliki ph yang sangat tinggi (diatas 14,0). darah memiliki ph antara 7,35-7,45. tubuh menggunakan 3 mekanisme untuk mengendalikan keseimbangan asam-basa darah:
adanya kelainan pada satu atau lebih mekanisme pengendalian ph tersebut, bisa menyebabkan salah satu dari 2 kelainan utama dalam keseimbangan asam basa, yaitu asidosis atau alkalosis. asidosis adalah suatu keadaan dimana darah terlalu banyak mengandung asam (atau terlalu sedikit mengandung basa) dan sering menyebabkan menurunnya ph darah. asidosis dan alkalosis bukan merupakan suatu penyakit tetapi lebih merupakan suatu akibat dari sejumlah penyakit. asidosis dan alkalosis dikelompokkan menjadi metabolik atau respiratorik, tergantung kepada penyebab utamanya. |
Fakta penting seputar STEM CELL
Februari 17, 2008Fakta penting seputar STEM CELL
1. Hal yang menjadi isu utama penelitian stem cell adalah perihal pengunaan stem cell embrio, terutama soal sumber sel tersebut, yakni embrio. Sumber embrio adalah hasil abortus, zigot sisa bayi tabung, dan hasil klon. Klon embrio manusia untuk memperoleh stem cell menimbulkan kontroversi, terutama berhubungan dengan isu ‘awal kehidupan’ dan penghormatan terhadap kehidupan.
2. Potensi stem cell sangat besar. di samping itu, efek samping merupakan reaksi penolakan tubuh ( Graft Versus Host Disease/ GVHD ), sangat jarang, karena stem cell diambil dari tubuh pasien sendiri.
3. Perlu penelitian panjang untuk benar-benar menggunakan stem cell sebagai terapi.
4. Biaya menjadi masalah tersendiri, karna ongkos yang dikeluarkan untuk satu kali terapi terbilang mahal.
5. Selain untuk kelainan darah, stem cell juga dapat dimanfaatkan untuk penyakit jantung, stroke, dan penyakit degeneratif lainnya.
sumber : Dokter kita edisi 02 thn III – Februari 2008
Merokok merupakan faktor potensial resiko psoriasis
Februari 17, 2008Merokok merupakan faktor potensial resiko psoriasis
Psoriasis adalah sejenis penyakit kulit yang penderita nya mengalami proses pergantian kulit yang terlalu cepat. Kemunculan penyakit ini terkadang untuk jangka waktu lama atau timbul/hilang, penyakit ini secara klinis sifatnya tidak mengancam jiwa, tidak menular tetapi karena timbulnya dapat terjadi pada bagian tubuh mana saja sehingga dapat menurunkan kualitas hidup serta menggangu kekuatkan mental seseorang bila tidak dirawat dengan baik ( psoriasis.or.id )
Studi yang diadakan di amerika selama 14 tahun pada 78.000 perempuan dengan usia antara 25-42 tahun menunjukkan bahwa secara keseluruhan, 78% perempuan yang merokok akan beresiko menderita psoriasis dari pada yang tidak pernah merokok.
Lebih lanjut, penelitian menemukan, resiko psoriasis lebih tinggi pada perokok berat dibandingkan perokok ringan – mengacu kepada teori lainnya bahwa perokok memberikan konstribusi langsung terhadap timbulnya psoriasis.
Penderita psoriasis sering dijumpai pada keluarga yang memiliki riwayat psoriasis, yang mengisyaratkan bahwa faktor genetika yang menyebabkan gangguan respon imun merupakan gangguan utama penyebab kondisi tersebut. Bagaimanapun faktor lingkungan juga menjadi masalah, dan beberapa penelitian sebelumnya mengemukakan bahwa merokok adalah salah satu faktor utama.
Penelitian terbaru mendukung suatu teori sebelumnya, bahwa “merokok adalah faktor yang paling kuat bagi psoriasis“, demikian pendapat para peneliti yang dipimpin oleh Dr. Arathi R.Setty dari Harvard Medical Schools di Boston.
Menurut para peneliti, rokok dapat menganggu sistem imun normal. Selain itu menyebabkan inflamasi, peneliti juga mengemukakan bahwa nikotin dan racun potensial lainnya yang terdapat pada rokok antara lain nitit oksid, peroksinitrit, dan radikal bebas dari senyawa organik mungkin menjadi pemicu abnormalitas respon sistem imun.
Dukungan kuat hubungan merokok dengan psoriasis adalah, bila perokok menghentikan kebiasaannya maka gejala-gejala psoriasis akan berkurang. Tetapi walaupun perempuan yang telah berhenti merokok selama 20 tahun masih mempunyai resiko dibandingkan dengan yang tidak pernah merokok.
sumber : Dokter’s guide vol 2/I/januari-februari 2008
Hipertensi pada penderita Alzheimer
Februari 17, 2008Hipertensi pada penderita Alzheimer dapat mempercepat penurunan fungsi mental
Tekanan darah tinggi mempercepat penurunan fungsi mental pada penderita Alzheimer, begitu pula fibrilasi atrium dan pekrotis yang nampaknya menghasilkan efek yang sama.Setidaknya itulah hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr.Michelle M.Mielke, dkk dari Johns Hopkins University Schools of Medicine, Baltimore.
Penelitian yang mengikutsertakan 135 penderita Alzheimer dengan usia rata-rata 84 tahun, 66% adalah perempuan, selama kurang lebih 3 tahun.
Hasil test standarrd metal function, fibrilasi atrium dan tekanan darah tinggi dihubungkan dengan progresivitas penurunan dalam kemampuan berfikir. Tingkat penurunan lebih besar terjadi pada orang yang lebih tua.
Hasil sebaliknya didapatkan bahwa penggunaan obat-obat anti hipertensi dapat mengurangi resiko penurunan fungsi mental penderita tersebut
sumber : Docter’s guide vol 2/I/january-februari 2008