Merokok merupakan faktor potensial resiko psoriasis
Psoriasis adalah sejenis penyakit kulit yang penderita nya mengalami proses pergantian kulit yang terlalu cepat. Kemunculan penyakit ini terkadang untuk jangka waktu lama atau timbul/hilang, penyakit ini secara klinis sifatnya tidak mengancam jiwa, tidak menular tetapi karena timbulnya dapat terjadi pada bagian tubuh mana saja sehingga dapat menurunkan kualitas hidup serta menggangu kekuatkan mental seseorang bila tidak dirawat dengan baik ( psoriasis.or.id )
Studi yang diadakan di amerika selama 14 tahun pada 78.000 perempuan dengan usia antara 25-42 tahun menunjukkan bahwa secara keseluruhan, 78% perempuan yang merokok akan beresiko menderita psoriasis dari pada yang tidak pernah merokok.
Lebih lanjut, penelitian menemukan, resiko psoriasis lebih tinggi pada perokok berat dibandingkan perokok ringan – mengacu kepada teori lainnya bahwa perokok memberikan konstribusi langsung terhadap timbulnya psoriasis.
Penderita psoriasis sering dijumpai pada keluarga yang memiliki riwayat psoriasis, yang mengisyaratkan bahwa faktor genetika yang menyebabkan gangguan respon imun merupakan gangguan utama penyebab kondisi tersebut. Bagaimanapun faktor lingkungan juga menjadi masalah, dan beberapa penelitian sebelumnya mengemukakan bahwa merokok adalah salah satu faktor utama.
Penelitian terbaru mendukung suatu teori sebelumnya, bahwa “merokok adalah faktor yang paling kuat bagi psoriasis“, demikian pendapat para peneliti yang dipimpin oleh Dr. Arathi R.Setty dari Harvard Medical Schools di Boston.
Menurut para peneliti, rokok dapat menganggu sistem imun normal. Selain itu menyebabkan inflamasi, peneliti juga mengemukakan bahwa nikotin dan racun potensial lainnya yang terdapat pada rokok antara lain nitit oksid, peroksinitrit, dan radikal bebas dari senyawa organik mungkin menjadi pemicu abnormalitas respon sistem imun.
Dukungan kuat hubungan merokok dengan psoriasis adalah, bila perokok menghentikan kebiasaannya maka gejala-gejala psoriasis akan berkurang. Tetapi walaupun perempuan yang telah berhenti merokok selama 20 tahun masih mempunyai resiko dibandingkan dengan yang tidak pernah merokok.
sumber : Dokter’s guide vol 2/I/januari-februari 2008